"Ketegangan geopolitik tetap menjadi pendorong utama, dua minggu menjelang pemilihan umum AS, persaingan tampaknya masih ketat, sehingga ketidakpastian politik yang cukup besar juga mendorong minat emas sebagai aset safe haven," ujar Peter A. Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals, dikutip dari Reuters.
"Tentu saja jika keadaan memanas lebih lanjut di Timur Tengah, kita bisa melihat harga emas di level US$3.000 sebelum akhir tahun, tetapi saya memprediksi sedikit condong ke kuartal I 2025," ujar Grant, seraya menambahkan bahwa jalur pelonggaran yang sedang berlangsung dari banyak bank sentral utama merupakan faktor lain yang mendorong reli tersebut.
Wakil Presiden AS dari Partai Demokrat Kamala Harris unggul tipis 46% berbanding 43% atas mantan Presiden dari Partai Republik Donald Trump, menurut jajak pendapat Reuters.
"Peluang kemenangan yang semakin menyempit antara kandidat presiden dari Partai Demokrat dan Republik ketika Kamala Harris mengambil alih sebagai calon dari Partai Demokrat, telah menciptakan ketidakpastian hasil, yang telah mendukung emas," ujar analis di BNP Paribas dalam sebuah catatan.
Dari sudut pandang teknis, Indeks Kekuatan Relatif (RSI) untuk emas, yang saat ini berada di angka 74, menunjukkan bahwa harga emas bergerak ke wilayah "overbought".
Yang mengejutkan, harga emas tetap melesat di tengah lonjakan indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury.