Sejak dulu, ia selalu menggunakan bajaj miliknya sendiri daripada harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk naik transportasi umum.
Ia bahkan bisa beristirahat selama perjalanan. Baginya, mudik dengan bajaj menjadi pilihan guna menghemat biaya walaupun kendaraan tersebut sangat tidak direkomendasikan untuk mudik.
Pemudik lain, Toni, juga memilih bajaj untuk perjalanan mudiknya ke Brebes.
Ia mengaku kecepatan maksimal kendaraannya sekitar 60 km per jam, dan dia selalu memastikan kondisi bajaj tetap prima dengan berhenti beristirahat beberapa kali.
“Semangat pulang kampung tak mengenal batas, bahkan dengan kendaraan yang jarang digunakan untuk perjalanan jauh seperti bajaj,” katanya.
Mudik tahun ini juga menjadi pengalaman berbeda bagi Syarifuddin, yang pertama kali menggunakan sepeda motor listrik untuk perjalanan dari Indramayu ke Tulungagung.
Baginya, motor listrik bukan hanya alat transportasi, melainkan hasil dari kerja kerasnya selama ini.
Tantangan terbesar bagi pemudik motor listrik adalah ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Namun, dia merasa tenang karena kini banyak titik pengisian daya tersedia, terutama di kantor unit PLN dan beberapa fasilitas umum lainnya.
Dengan kapasitas baterai penuh, motornya mampu menempuh jarak 120 kilometer, dan ia telah merencanakan titik pemberhentian untuk mengisi daya di sepanjang perjalanan.